SAMARINDA – Di sela rangkaian agenda resmi yang padat, DPW LDII Kalimantan Timur menggelar kegiatan selingan yang sederhana namun penuh makna: ngopi bareng. Kegiatan yang berlangsung di salah satu sudut ruang sekretariat itu menjadi ruang jeda bagi para pengurus untuk menarik napas sejenak, sekaligus mempererat hubungan yang selama ini terbangun melalui kerja organisasi yang intens.

Suasana siang itu terasa hangat. Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan gurihnya kudapan kecil yang tersaji di meja kayu panjang. Tidak ada protokoler, tidak ada formalitas. Para pengurus duduk melingkar dengan posisi yang cair, sebagian menyandarkan badan sambil menyimak cerita, sebagian lain tertawa kecil menanggapi gurauan yang terlontar.
Di tengah suasana santai itu, Wakil Ketua DPW LDII Kalimantan Timur, Imam Sujono Lutfi, memegang peran sebagai pemandu obrolan. Dengan gaya berbicara yang tenang dan bersahaja, beliau membuka percakapan dengan topik ringan: bagaimana kegiatan dakwah, program sosial, serta pengalaman unik para pengurus selama mendampingi berbagai kegiatan di daerah masing-masing.
“Sesekali kita perlu begini,” ucap Imam sambil tersenyum, menatap para pengurus.
“Biar pikiran sedikit longgar, tapi tetap dapat arah. Ngopi bukan cuma soal minumannya—tapi soal siapa yang duduk bareng.”
Perkataan itu disambut anggukan. Tidak lama kemudian perbincangan mengalir lebih luas: tentang tantangan generasi muda dalam organisasi, program pembinaan yang tengah digagas, hingga cerita lucu yang terjadi ketika kunjungan lapangan. Tawa pecah beberapa kali, menandakan suasana yang benar-benar hidup.
Kegiatan santai tersebut ternyata menjadi ajang penting untuk menyamakan frekuensi antar pengurus. Di balik obrolan ringan, muncul gagasan-gagasan spontan yang justru relevan untuk pengembangan program DPW LDII Kaltim ke depan. Ada yang mengusulkan konsep pelatihan baru, ada yang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan komunikasi, dan ada pula yang mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan dalam menghadapi agenda besar organisasi.
Yang membuat sesi itu semakin akrab adalah gaya pemanduan Imam Lutfi. Ia tidak menggurui, tetapi menuntun obrolan mengalir secara alami. Sesekali beliau memantik tanya, kadang mengulas cerita dengan sudut pandang yang lebih dalam. Para pengurus mengikuti alurnya dengan nyaman, seolah sedang mendengarkan seorang kakak yang merangkul adik-adiknya dalam percakapan keluarga.
Menjelang sore, cangkir-cangkir kopi mulai kosong, namun suasana kebersamaan justru semakin penuh. Para pengurus tidak hanya pulang dengan pikiran yang lebih segar, tetapi juga dengan semangat yang kembali menyala. Kegiatan sederhana itu membuktikan bahwa kekuatan organisasi tidak selalu dibangun dari rapat dan dokumen resmi, tetapi juga dari momen ringan yang memperkuat hubungan manusia di dalamnya. (lines/kutim)







Leave a Reply