SANGATTA – Puluhan peserta kemping di Komplek Masjid Ashaabul Jannah, Jalan Kampung Baru, RT 51, Kelurahan Swarga Bara, Sangatta Utara, tampak begitu bersemangat. Para muda-mudi tersebut kembali menjalani kegiatan Perkemahan Akhir Tahun Ajaran (Permata) Cinta Alam Indonesia (CAI) Kutai Timur (Kutim), 25-27 Juli 2025.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Ponpes Gading Mangu dan Wali Barokah ini, dieksekusi melalui Ponpes Budi Luhur Mandiri Sangatta dengan kepanitiaan dari Ikatan Remaja Masjid Ulul Albaab Sangatta. Mengangkat tema “penguatan karakter dan kepemudaan melalui kegiatan edukatif dan sosial”.
Adapun materi utama yang diangkat dalam CAI Kutim 2025, yakni memperkuat nilai kebangsaan, kepemimpinan, kewirausahaan, serta penyuluhan hukum. Selain itu, panitia juga mengedepankan nilai enam thobiat luhur yakni kompak, rukun, kerja sama yang baik, amanah, jujur, dan hidup efektif serta efisien.
Pembukaan acara diresmikan oleh Ketua Dewan Penasehat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kutim KH Muflikun Assiddiqy SH, memberikan nasehat-nasehat pemantapan yang sangat menyentuh, dengan berbagai contoh kisah yang nyata.
Dia berharap, Permata CAI Kutim tahun ini bisa menjadi momen tak terlupa untuk para peserta maupun panitia. Sebab, banyak sekali ilmu dan pemahaman yang disampaikan dalam materi-materi selama kemping tersebut.
“Semoga anak-anak remaja yang mengikuti CAI ini bisa lebih memaknai kehidupan melalui program kegiatan dan materi yang disampaikan dalam penyampaian pembahasan CAI 2025 ini,” harap Muflikun.

Ketua Panitia Permata CAI Kutim 2025, Ardy Haryanto menjelaskan, melalui kemping CAI tersebut para peserta diajarkan untuk lebih disiplin hidup dan bekerja sama sesama rekan peserta. Karena ketika pelaksanaan CAI, peserta wajib mengikuti kegiatan yang memiliki target-target waktu.
“Mereka juga dibangunkan saat tengah malam untuk qiyamullail, serta salat lima waktu berjamaah di awal waktu di masjid, dan praktek pelaksanaan kehidupan mandiri selama hanya tiga hari kegiatan,” terang Ardy.

Ketua IRMA Ulul Albaab Sangatta, Theo Okta Wirawan menegaskan, materi-materi yang disampaikan dalam CAI tersebut, ditujukan untuk penguatan pembentukan karakter para peserta. Ini juga untuk membantu mendorong pembentukan generasi penerus (generus).
“Harapannya, materi di kemping CAI Kutim tersebut nantinya bisa disampaikan juga ke masjid-masjid, untuk diimplementasikan sebagai penguatan karakter kemandirian. Untuk menjalani kehidupan beragama dan antar umat beragama di Indonesia, khususnya di Kutim sendiri,” harap Theo. (lines/kutim)







Leave a Reply