LDII Kutim Buktikan Roda Ekonomi Meningkat saat Iduladha

LDII Kutim Buktikan Roda Ekonomi Meningkat saat Iduladha
tempat sapi di kumpulkan / foto drone jakaria

SANGATTA – LDII Kutai Timur (Kutim) pada 2019 menyembelih hewan kurban sebanyak 128 sapi dan 64 kambing. Jumlah tersebut menandakan harga hewan kurban yang naik tak memengaruhi daya beli.

Hal itu pula membuktikan kesadaran warga LDII Kutim tetap tinggi dalam menunaikan ibadah kurban. Bahkan meningkat secara kualitas maupun kuantitasnya dibanding Idhuladha pada 2018, LDII Kutim menyembelih 106 sapi dan 52 kambing.

Apabila pembelian hewan kurban LDII Kutim tahun 2019 dihitung. Dengan perkiraan harga sapi ditaksir Rp 20 juta per ekor, dan harga kambing Rp 3 juta per ekor, maka total belanja hewan korban LDII Kutim pada 2019 adalah Rp 2.752.000.000 (dua miliar tujuh ratus lima puluh dua juta), hampir mendekati Rp 3 miliar.

Meningkatnya per­mintaan hewan ternak jelang Iduladha tentu berdampak meningkatnya kebutuhan pa­sokan hewan ternak. Jika tidak diantisipasi, besar kemungkinan akan berdam­pak pula pada melambungnya harga hewan ternak. Terbukti dari penjelasan H Gunawan, yang sejak 2015 menjadi tim belanja hewan kurban LDII Kutim.

“Harga sapi yang tahun lalu (2018) senilai Rp 18 juta per ekor, sekarang naik menjadi Rp 20 juta per ekor. Kenaikan harga ini sudah terjadi setiap tahun sejak kami menjadi tim belanja hewan kurban,” ulas Gunawan.

Jadi, lanjut dia, apabila uang Rp 3 miliar dibelanjakan pada tahun lalu tentu akan mampu menyembelih sapi lebih banyak.

“Sebenarnya kami lebih suka membeli dari peternak lokal, hanya saja peternak lokal Kutim masih sangat sedikit sekali. Akhirnya kami beli di penjual musiman yang merupakan kiriman dari pulau seberang. Antara lain dari Jawa, Sulawesi dan NT,” ungkapnya.

Saat ditanya tentang tingginya angka permin­taan hewan kurban, Ketua LDII Kutim, KH Muflihun Assiddiqi menjelaskan, pihaknya memiliki langkah guna mengatasi kenaikan harga.

“Kami telah melakukan survei kemandirian kepada generasi muda LDII, salah satu hasilnya ada yang ingin berwirausaha di bidang peternakan. Hasil survei tersebut tentu akan kami tindak lanjuti dengan beberapa kegiatan, pelatihan yang mendorong keinginan para generus bisa terwujud,” papar lelaki yang juga dewan penasihat MUI Kutim tersebut.

Bisnis peternakan di Kalimantan, menurut Muflihun, peluangnya masih terbuka lebar. Bahkan lahannya pun masih banyak terhampar.

“Harapan kami kelak LDII Kutim bisa menyediakan sebagian kebutuhan hewan kurban sendiri. Jadi ibadahnya dapat, efek ikutannya yaitu memutar roda ekonomi warga juga dapat,” ringkasnya. (omt/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *