LDII Ingatkan Caleg Harus Jaga Identitas Organisasi

Samarinda – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Kaltim melaksanakan Konsolidasi Organisasi di Ponpes Al-Aziziyah Samarinda, Kamis (17/11) yang lalu. Konsolidasi ini mengundang calon anggota legislatif (caleg) DPRD kota/kabupaten, provinsi, maupun DPR yang berada di Kalimantan Timur, untuk hadir dalam rangka pembekalan menghadapi tahun politik 2019.

Konsolidasi organisasi ini menghadirkan narasumber yang berpengalaman. Mereka adalah Ketua DPP LDII Ir H Chriswanto Santoso M.Sc, bersama dengan Ketua Departemen Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) DPP LDII Rully Kuswahyudi. Dalam rangkaian materi, juga disosialisasikan hasil rapat kerja nasional (rakernas) LDII pada Oktober 2018.

Ketua DPW LDII Kaltim Prof Dr Ir Krishna Purnawan Candra, berharap kepada para peserta memperhatikan materi pembekalan tersebut. Dengan demikian, para calon anggota legislatif mendapatkan wawasan untuk menghadapi tahun politik mendatang.

Dalam penyampaiannya, Chriswanto Santoso mengatakan, tahun politik 2019 adalah tahun yang sangat luar biasa. “Karena, untuk pertama kalinya pesta demokrasi di negara ini dilaksanakan untuk memilih lima kategori sekaligus. Yaitu DPRD kota, DPRD provinsi, DPR RI, DPD RI, dan presiden,” tuturnya.

Untuk itu, Criswanto berharap kepada para calon anggota legislatif yang akan berkompetisi nantinya harus benar-benar mempersiapkan mental. Tidak pesimis sebelum bertanding. Mereka diingatkan agar berhati-hati dalam menyusun strategi, tidak lengah melakukan pelanggaran selama masa kampanye.

“Para caleg harus berhati-hati dalam menyusun strategi. Jangan sampai terpeleset sehingga malah tidak jadi ikut bertanding di kompetisi,” tuturnya.

Menurut Chriswanto, tahun ini banyak isu-isu politik yang tidak baik, termasuk isu money politic. “Pesta demokrasi kali ini juga tidak telepas dari coat-tail effect,” pesan Chriswanto.

Coat Tail Effect atau efek ekor jas, dapat dimaknai sebagai pengaruh figur dalam meningkatkan suara partai di pemilu. Figur tersebut bisa berasal dari capres ataupun cawapres yang diusung. Di Indonesia, efek ekor jas pernah mengalami kesuksesan besar. Misalnya, terjadi pada 2004 dan 2009 dengan figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Partai Demokrat yang baru berdiri 2001 tiba-tiba memperoleh suara signifikan pada Pemilu 2004. Bahkan pada 2009 menjadi pemenang pemilu. Ketokohan SBY turut mempengaruhi tingkat perolehan Partai Demokrat di dua pemilu tersebut.

Hal sama terjadi pada Pemilu 2014. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menikmati efek ekor jas dari figur Joko Widodo (Jokowi). Bahkan, kini saat elektabilitas dan tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi terus meningkat, tingkat keterpilihan PDIP pun semakin meroket dalam sejumlah hasil survei terakhir.

Jadi, lanjut Chriswanto, dengan isu-isu yang ada, caleg LDII harus tetap menjaga identitasnya sebagai warga LDII yang berbudi luhur. “Jangan sampai demi mencapai kemenangannya, menghalalkan segala cara agar bisa menang berkompetisi. Itu jangan sampai terjadi,” pungkasnya. (aqib/mon/sa/lines

[ux_gallery ids=”1167,1168”]

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *